Rabu, 18 Oktober 2017

PATOGENESIS STROKE INFARK KARDIOEMBOLI

I. PENDAHULUAN
Stroke adalah istilah umum yang digunakan untuk satu atau sekelompok gangguan cerebro vasculer, termasuk infark cerebral, perdarahan intracerebral dan perdarahan subarahnoid. Menurut Caplan stroke adalah segala bentuk kelainan otak atau susunan saraf pusat yang disebabkan kelainan aliran darah, istilah stroke digunakan bila gejala yang timbul akut. Mekanisme terjadinya infark serebri adalah melalui pembentukan trombus, emboli, atau gangguan hemodinamik. Dalam kategori klinis stroke infark dapat dibedakan menjadi infark atherotrombotik, infark kardioemboli atau infark lakuner.

Stroke kardioemboli adalah suatu gangguan neurologis akut yang
disebabkan oleh gangguan pembuluh darah, dimana secara mendadak
atau cepat timbul gejala dan tanda yang sesuai dengan daerah, fokal
diotak, akibat suatu emboli yang berasal dari jantung.
Stroke kardioemboli awitannya dimulai dengan defisit neurologik fokal
yang dapat menjadi lebih berat, dasar diagnosa klinik dibuktikan dengan
adanya sumber emboli dari jantung dan tidak ditemukannya penyebab
lain dari strokenya.
II. ANGKA KEJADIAN
20%-30% penyebab stroke adalah emboli , emboli dapat berasal dari
jantung, arteri besar danpembuluh darah vena. Satu dari 6 stroke iskemik
(15%) disebabkan oleh kardiemboli. Frekwensi terjadinya tipe emboli
yang berbeda bervariasi, tergantung dari umur penderita, emboli yang
berasal dari penyakit katup jantung rematik terdapat pada usia muda,
emboli yang berasal dari atherosklerosis lebih banyak ditemukan pada
usia yang lebih tua. Hal ini perlu diketahui karena penyakit jantung
danatherosklerotik dapat timbul bersama-sama, sehingga walupun
sumber potensial untuk terjadinya kardioemboli ada, tidak berarti
penyebab infark serebri adalah kardioemboli. Diagnosa kardioemboli
adalah sangat penting untuk ditegakkan sebab evaluasi dan terapinya
berbeda dari penyakit pembuluh darah otak.
2002 digitized by USU digital library 2
III. PATHOGENESIS
Hampir 90% emboli yang berasal dari jantung berakhir di otak, hal ini
disebabkan karena:
• Aliran darah ke otak berasal dari arkus aorta sehingga emboli yang
lepas dari ventrikel kiri akan disebarkan melalui aliran darah ke
arteri karotis komunis kiri dan arteri brakhiosefalik.
• Jaringan otak sangat sensitif terhadap obstruksi aliran darah,
sehingga emboli yang berukuran 1 mm sudah dapat menimbulkan
gangguan neurologis yang berat, emboli dengan ukuran yang sama
bila masuk ke jaringan lain dapat tidak memberikan gejala sama
sekali.
Emboli intra kranial terutama berada di hemister serebri, hal ini
disebabkan oleh karena jumlah darah yang melalui arteri karotis
(300ml/menit) jauh lebih banyak daripada yang melalui arteri
vertebralis (100ml/menit), selain itu juga disebabkan oleh karena
aliran yang berkelok kelok dari arteri subklavia untuk dapat mencapai
sistem vertebralis.
Emboli mempunyai predileksi pada bifurkasio arteri terutama pada
cabang a.cerebri media, bagian distal a.basilaris dan a.cerebri
posterior.
Kebanyakan emboli terdapat di arteri cerebri media, bahkan emboli
ulang pun memilih arteri ini juga, hal ini disebabkan karena arteri
cerebri media merupakan percabangan langsung dari arteri karotis
interna, dan arteri cerebri media akan menerima 80% darah yang
masuk ke arteri karotis interna.
Medula spinalis jarang terserang emboli, tetapi emboli dari abdomen
danaorta dapat menimbulkan sumbatan aliran darah ke medula
spinalis dan menimbulkan gejala defisit neurologis
Berbeda dengan emboli pada atherosklerosis, emboli dari jantung
terdiri dari gumpalan darah (klot) yang lepas daya ikatnya dari dinding
pembuluh darah atau jantung, emboli ini dapat pecah dan pindah ke
pembuluh darah yang lebih distal sehingga bila dilakukan pemeriksaan
angiografi setelah 48 jam emboli biasanya sudah tidak tampak.
Besarnya infark kardioemboli tergantung dari:
• Ukuran emboli
• Pembuluh darah arteri yang terkena
• Stabilitas dari emboli
• Sirkulasi kolateralnya
Kelainan yang ditimbulkan oleh emboli dapat berupa:
• Obstruksi/sumbatan arteri, biasanya terdapat pada
percabangan arteri, karena lumennya lebih kecil dari pada
lumen jaringan dibagian distalnya dan siasis aliran darah,
sehingga dapat terbentuk formasi rouleaux, yang akan
membentuk klot pada daerah stagnasi baik distal maupun
proksimal. Gejala neurologis dapat timbul segera dalam
beberapa detik, bila pembuluh darah kolateralnya tidak segera
berfungsi maka akan segera timbul perubahan irreversibel
maka fungsi neuron akan segera pulih.
• Iritasi, yang akan menimbulkan vasospasme lokal. Vasospasme
yang masih dapat timbul sbg respons terhadap emboli yang
2002 digitized by USU digital library 3
kecil, terutama pada orang muda dimana belum terjadi
arterosklerosis.
Emboli dapat menyumbat semua arteri tergantung dari ukuran
dan bentuk emboli:
• Emboli yang besar umumnya adalah klot yang berasal dari
jantung, dapat menyumbat arteri ekstrakranial yang besar
seperti a.brakhiosefalik, a.subclavia, a.karotis dan a.vertebralis
• Emboli yang lebih kecil dibentuk di jantung atau proksimal
arteri, dapat menyumbat arteri intra kranial seperti a.karotis,
interna, a.cerebri anterior, a.vertebralis, a.basilaris, a.cerebri
posterior dan a.cerebri media. Pada sirkulasi anterior, predilaksi
emboli yang paling sering adalah ke a.cerebri media dan
cabang cabangnya.
• Emboli yang paling kecil lagi seperti pecahan trombus, kristal
kolesterol, pecahan plak atheromatosa, pecahan kalsium dari
katub permukaan pembuluh darah cendrung untuk menyumbat
cabang kecil superfisial dari arteri cerebri, arteri cerebelli, dan
arteri opthalmika pada retina.
Bagaimana penyakit jantung dapat menimbulkan emboli serebri.
Trombus intrakardial terbentuk bila terdapat kelainan pada katub atau
dinding rongga jantung, trombus ini terbentuk bila terjadi gangguan
irama jantung sehingga terjadi keadaan yang relatif statis pada atrium
seperti pada atrial fibrilasi dan sick sinus sindroma. Emboli dapat juga
terbentuk dari tumor intra kardial, dan pada keadaan yang jarang
sekali dari pembuluh darah vena (pada emboli paradoxical).
Faktor yang dapat menimbulkan emboli mungkin berbeda
untuk masing-masing kelainan jantung:
• Faktor mekanis:
Misalnya pada atrial fibrilasi, perubahan fungsi mekanik dari
atrium yang timbul setelah gangguan irama mungkin
berkorelasi dengan timbulnya emboli. Endokardium
mengoptimal jantung dengan mengatur kontraksi dan relaksasi
miokardium (hal ini hanya terjadi pada endokardium yang
intak), pada endokardium yang rusak seperimpose trombus
dapat menimbulkan respons inotropik pada miokardium yang
bersangkutan dan menimbulkan kontraksi yang tidak seragam
pada dinding jantung, hal ini akan menimbulkan pelepasan
emboli.
• Faktor aliran darah:
Tidak hanya aliran darah yang ditandai dengan tidak adanya
gelombang pada echokardiografi adalah petunjuk yang penting
pada pembentukan emboli. Egeblad menunjukkan stagnasi
darah yang tampak pada echokardiografi adalah sumber emboli
pada trombus atrium kiri. Ejeksi fraksi yang rendah atau
penyakit jantung kongestif dapat menimbulkan emboli setelah
atrial fibrilasi, miokard dapat menimbulkan emboli setelah atrial
fibrilasi, miokard infark, atau dilatasi kardiomiopati
• Faktor lain: yang juga penting dalam proses pembentukan
emboli adalah pemecahan trombus oleh ensim trombolitik
endokardial.
2002 digitized by USU digital library 4
IV. GEJALA KLINIK DAN RADIOLOGI STROKE KARDIOEMBOLI
Gejala utama:
• Awitannya yang tiba-tiba dengan defisit maksimal
• Adanya penyebab emboli yang potensial dari jantung
• Infark otak multipel pada korteks atau serebelum pada teritorial
pembuluh darah yang multipel
Gejala tambahan:
• Infark berdarah pada CT Scan
• Tidak ditemukannya penyakit atherosklerotik pada angiografi
• Bukti oklusi yang menghilang pada angiografi ulang
• Terdapatnya emboli pada organ lain
• Trombus jantung yang terbukti dengan ekhokardiografi,
katerisaasi, CT jantung atau MRI
Menurut penulis lain:
• Terjadi pada usia muda
• Episode yang berulang pada teritorial pembuluh darah otak yang
berbeda, baik secara klinik maupun dengan CT Scan
• Awitan yang akut pada aktifitas fisik, biasanya dikatakan maximal
at onset tanpa gejala TIA sebelumnya pada teritorial arteri yang
sama. Dapat juga mempunyai pola awitan stuttering dalam
beberapa menit atau hari bila penyumbatana parsial menjadi
komplit, atau bila pecahan emboli bergerak kearah distal sehingga
terbentuk emboli yang lebih kecil maupun multipel.
• Gejala neurologik yang timbul tergantung dari pembuluh darah
yang tersumbat
• Adanya sumber emboli dari jantung dan tidak ditemukan penyebab
lain dari strokenya
• Pada CT Scan terdapat gambaran infark didaerah kortek superfisial
yang berbentuk huruf V dan infark yang besar.
Walaupun tidak ditemukan emboli dalam pembuluh darah, tetapi bila
terdapat gejala klinis yang karakteristik untuk emboli serebral, maka
diagnosa emboli masih harus dipertimbangkan, hal ini mungkin terjadi
disebabkan karena:
• Vasospasme yang masih dapat timbul sebagai respons terhadap
emboli yang kecil
• Emboli dapat pecah menjadi frgamen-fragmen yang lebih kecil
yang menyumbat arteriol bagian distal sehingga tidak tampak pada
autopsi
• Emboli darah dapat hancur pada proses fibrinolisis
2002 digitized by USU digital library 5
V. KELAINAN JANTUNG YANG DAPAT MENYEBABKAN KARDIOEMBOLI
Penyakit katup jantung:
• Penyakit katup mitral
• Penyakit katup aorta
• Katup buatan
• Prolaps katup mitral (MPV)
Gangguan pada atrium
• Fibrilasi atrium
• Aneurisma atrium
• Myxoma atrium
Gangguan pada ventrikel
• Infark miokardium
• Aneurisma ventrikel
• Diskinesia dinding ventrikel
Penyakit katup mitral:
20% pasen dengan penyakit katup mitral akan mengalami emboli,
terutama pada usia lebih dari 40 tahun dengan penyakit katup yang
sedang atau berat, pada penyakit ini, atrial trombosis disebabkan oleh
stasis darah pada atrium kiri. Insidens emboli lebih tinggi pada mitral
stenosis yang murni dari pada campuran mitral stenosis dan mitral
stenosis dan mitral regurgitasi atau mitral regutgitasi murni. Mitral
stenosis terutama disebabkan oleh penyakit jantung rematik (RHD)
Resiko terjadinya kardioemboli dapat meningkat bila mitral stenosis sudah
lama terjadi atau disertai atrial fibrilasi. Menurut studi framingham atrial
fibrilasi kronik dengan RHD dapat menimbulkan stroke 17 kali,
dibandingkan yang tanpa RHD hanya 5 kali.
Emboli dapat juga terbentuk dari deposit platelet dan fibrin yang
menimbulkan kalsifikasi stenotik pada katup mitral.
Prolaps katup mitral (MPV):
Ditandai dengan prolaps jaringan mitral ke dalam atrium kiri selama
sistolik, biasanya disertai dengan prolaps katup trikuspidalis dan katup
aorta. Pada katup mitral terjadi deposit fibrin, platelet dan trombin disertai
penebalan katup dan degenerasi mixomatosa.
Biasanya ditemukan bersama pada orang muda dengan penyebab stroke
yang jelas. Dapat ditemukan bersama dengan deformitas tulang belakang
seperti skoliosis, pectus ekskavatus dan dapat juga disertai penyakit
jaringan ikat seperti Marfan, Ehler Danlos dan pseudoxanthoma elastikum
Stenosis kalsifikasi aorta:
Jarang menimbulkan emboli, disebabkan oleh deposit platelet dan fibrin
pada katup aorta.
Katup buatan:
Katup buatan mitral dan aorta dapat menyebabkan emboli cerebri
disebabkan aliran turbulensi, stasis dan gangguan komponen darah yang
menimbulkan peningkatan pembentukan klot terutama pada perbatasan
antara katup buatan dan jaringan normal. Emboli dapat timbul segera
setelah pemasangan katup, dapat juga timbul setelah 3-5 tahun
kemudian.
2002 digitized by USU digital library 6
Fibrilasi atrium:
Sumber emboli pada atrial fibrilasi adalah pada atrium kiri, dan dianggap
merupakan faktor resiko yang penting dalam terjadinya kardioemboli. Bila
ditemukan bersama sama RHD dapat meningkatkan resiko stroke 17 kali.
Myxoma jantung:
Adalah tumor primer jantung, terutama terdapat di atrium kiri, tumor
bertangkai tumbuh pada septum atrium pada daerah fossa ovale,
sehingga dapat bergerak menutup rongga atrium. Tumor dapat juga
melekat erat pada dinding atrium dan bila pecah dapat menimbulkan
emboli oleh fragmen tumor.
Infark miokard:
Terbentuk trombus pada ventrikel kiri terutama pada apex. Resiko
pembentukan trombus adalah maximal pada minggu ke 2-4, menurut
Toole 2/3 kasus pada akhir minggu ke 3 dan ¾ kasus pada akhir minggu
ke 4. Tetapi dapat juga lebih lambat pada dilatasi aneurisma yang
persisten dan segmen skinetik pada ventrikel kiri.
Predisposisi timbulnya emboli setelah miokard infark disebabkan oleh
daerah infark yang luas, kegagalan jantung kongestiv, gangguan dinding
anteroseptal.
Komplikasi yang dapat timbul dari infark miokard adalah:
• Emboli, yang terjadi karena gangguan fungsi otot jantung,pada
infark kecil terjadi kerusakan endotel otot jantung sehingga timbul
pengumpulan platelet dan fibrin yang kemudian akan membentuk
trombus dandpt lepas menjadi emboli
• Trombus mural yang terbentuk dalam daerah yang akinetik. Pada
infark yang besar didaerah transmural kerusakan otot jantung
yang terjadi sangat luas sehingga timbul daerah yang tidak
berfungsi (akinetik), pada daerah ini dapat terjadi stagnasi darah
yang akan menimbulkan trombus
Miokard infark pada dinding anterior lebih banyak menimbulkan trombus
dibandingkan infark pada dinding posterior.
2002 digitized by USU digital library 7
DAFTAR PUSTAKA
Caplan LR. Stroke a clinical approach.2nd ed. US : Butterwort, 1993; 349-68
Gates P. Cardiogenic stroke in, Barnett H. et al. stroke pathophysiology,
diagnosis and management, vol.2 Melbourne: Churchill Livingstone,
1986:1085-104
Heloason CM. Cardioembolic stroke: topography and pathogenesis.
Cerebrovascular and Brain metabolism Reviews. New York:Raven
Press, 1992:4:28-58
McGhee T. Cerebrovascular disease and neurological manifestations of heart
disease, in Hurst W. The Heart arteries and veins. 5th ed. New
York: McGraw Hill, 1986:1486-97
Neurogical Review. Cardiogenic brain embolism. Cerebral embolism Task
Force. Arc. Neuro. 1986:43; 71-81
Toole J. Cerebrovascular disorders. 3rd ed. New York: Raven, 1984:168-96
Whisnant et al. Special report from the national institute of neurological
disorders and stroke clasification of cerebrovascular disease III.
Stroke, 1990; 21:638-39, 653-61

Rabu, 04 Januari 2012

Cerminan Anak





            Kita sering mendengar orang Jawa mengatakan, “Kacang ora ninggal lanjaran” artinya tabiat seorang anak itu tidak jauh dengan tabiat orang tuanya. Unen-unen atau peribahasa Jawa tersebut menggambarkan bahwa tabiat dan kepribadian orang tua itu sangat berpengaruh pada tabiat dan kepribadian seorang anak. Saking berpengaruhnya tabiat orang tua terhadap tabiat anak hingga masyarakat sering kali menyandarkan atau menghubung-hubungkan segala tindak tanduk anak dengan orang tuanya, anak polah bapak kepradan, begitu orang Jawa menyebutnya, jika anak bertingkah laku baik maka nama orang tua turut disanjung-sanjung, tetapi jika anak bertingkah laku jelek maka orang tua juga turut terkena getahnya.
            Berikut ini adalah sebuah kisah yang dapat dijadikan pelajaran, betapa tabiat dan kepribadian orang tua itu sangat berpengaruh pada tabiat dan kepribadian seorang anak.
            Suatu ketika disebuah sekolah akan diadakan sebuah pementasan drama yang sangat meriah. Semua pemeran drama diambil dari siswa-siswi di sekolah tersebut. Semua anak berlatih dengan serius, karena Pak Guru mengumumkan bagi siswa siswi yang dapat memerankan karakter suatu tokoh dengan sangat bagus akan diberi suatu penghargaan.
            Di depan panggung, semua orang tua siswa ikut hadir menyemarakkan acara tersebut. Lakon drama berjalan dengan sempurna. Semua anak berusaha tampil dengan maksimal. Ada yang berperan sebagai petani lengkap dengan cangkul dan topinya, ada juga yang berperan sebagai nelayan dengan jala yang disandarkan di bahunya. Di sudut sana, tampak pula seorang anak dengan raut muka ketus, sebab dia kebagian peran pak tua yang pemarah, sementara di sudut lain terlihat anak dengan wajah sedih, layaknya pemurung yang selalu menangis. Tepuk tangan dari orang tua dan para guru kerap kali terdengar di sisi kanan dan kiri panggung.
            Tibalah kini saat terakhir pementasan drama, dan itu berarti Pak Guru harus mengumumkan siapa pemeran paling handal yang berhak mendapatkan penghargaan. Semua anak menunggu-nunggu pengumuman itu dengan hati yang berdebar-debar, berharap merekalah yang terpilih menjadi pemeran yang terbaik. Dalam komat-kamit mereka berdo’a, supaya nama merekalah yang dipanggil Pak Guru dan mengundang mereka beserta orang tua mereka untuk naik ke atas panggung menerima penghargaan itu. Para orang tua pun juga turut berdo’a membayangkan anak mereka menjadi yang terbaik.
            Pak Guru menaiki panggung, semua yang hadir menahan nafas. Tak lama kemudian ia menyebutkan sebuah nama, dan…ahaa! ternyata anak yang memerankan pak tua yang pemarah lah yang menjadi juara. Sang anak bersorak gembira, “Akuu menaaang….!” Begitu teriaknya. Ia pun bergegas menaiki panggung diiringi kedua orang tuanya yang tampak tersenyum bangga. Tepuk tangan terdengar lagi. Orang tua menatap ke sekeliling, menatap para hadirin, mereka bangga. Pak Guru menyambut mereka sebelum penyerahan hadiah. Ia sedikit bertanya kepada “Sang Jagoan.”
            “Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas mendapat penghargaan ini. Peranmu sebagai seorang pemarah terlihat sangat bagus sekali dan betul-betul menjiwai. Apa rahasianya Nak, sehingga kamu bisa tampil sebagus ini, kamu pasti sering mengikuti latihan, tak heran jika kamu terpilih menjadi yang terbaik,” Tanya Pak Guru, “Coba ceritakan kepada kami semua, apa yang bisa membuat kamu menjadi seperti ini?” Pak Guru melanjutkan kata-katanya.
            Sang anak menjawab dengan bangga, “Terimakasih atas hadiahnya Pak, dan sebenarnya saya harus berterimaksih kepada Ayah saya, karena dari Ayah lah saya belajar berteriak dan menjadi pemarah. Dan kepada Ayah lah saya meniru perilaku ini. Ayah sering berteriak dan memarahi saya, maka bukan hal yang sulit bagi saya untuk menjadi pemarah seperti Ayah saya.
            Tampak sang Ayah mulai tercenung. Sang Anak melanjutkan, “…Selama ini Ayah membesarkan saya dengan cara seperti ini, jadi peran ini adalah peran yang mudah bagi saya…”
             Senyap. Usai bibir anak itu terkatup keadaan tambah senyap.. Begitupun keadaan orang tua mereka di panggung, mereka tampak tertunduk. Jika sebelumnya mereka merasa bangga, kini keadaannya berubah. Seakan-akan mereka berdiri sebagai terdakwa di muka pengadilan. Mereka belajar sesuatu hari itu, ada yang perlu diluruskan.[1]
            Dari kisah di atas dapat kita petik pelajaran, betapa besar pengaruh sikap dan kepribadian orang tua terhadap sikap dan kepribadian seorang anak, hingga untuk berperan sebagai seorang pemarah yang ahli pun anak itu tidak perlu latihan secara khusus, karena anak merasa sang Ayah sudah mengajarkannya setiap hari melalui cara Ayah memperlakukan si Anak tersebut.
            Begitupun juga dengan putra-putri kita, apabila kita mendapati perilaku yang tidak baik pada diri mereka, maka seyogyanya janganlah serta merta langsung menyalahkan mereka. Hal penting yang juga perlu kita lakukan adalah “koreksi diri”. Apakah sebabnya mereka berperilaku demikian? Bagaimanakah dengan perilaku kita sebagai orang tua sehari-hari? Apakah kita sudah memberikan teladan yang baik bagi mereka melalui tingkah laku kita sehari-hari, ataukah malah sebaliknya? Jangan-jangan sikap buruk pada anak adalah hasil didikan kita sendiri yang selama ini tidak kita sadari.
            Anak adalah cerminan orang tua. Dapat dikatakan, bagaimana anak itu berfikir dan berperilaku seperti itu juga selama ini orang tuanya berfikir dan berperilaku. Perlu diketahui, pemberian teladan pada seorang anak melalui tingkah laku itu jauh lebih tertanam dalam jiwa mereka dari pada memberi teladan melalui kata-kata. Maka hendaklah sebelum kita mendidik anak berperilaku baik, terlebih dahulu kita harus mendidik diri sendiri. Sering kali kita mendengar keluhan, “anak saya itu lho sudah saya suruh sholat setiap hari, tapi tetap saja tidak mau nurut.” Lha bagaimana bisa nurut, orang ibu atau bapaknya sendiri sholatnya masih bolong-bolong.
            Orang tua tidak perlu membentak-bentak, mencarikan guru khusus, ataupun menaruhnya di sekolah yang berkualitas untuk menjadikan anaknya berakhlak baik, cukuplah orang tua tersebut merealisasikan pada dirinya sendiri apa yang ia inginkan pada anaknya, maka Insya Allah dengan sendirinya anak akan mengambil pelajaran dari sikap orang tua, bahkan tanpa disuruh. Jika ingin anaknya rajin mengaji, maka orang tua terlebih dahulu harus rajin mengaji. Jika ingin anaknya rajin sholat, maka orang tua terlebih dahulu harus rajin sholat. Untuk menanamkan pendidikan cinta sholat, maka ketika hendak sholat orang tua bisa mengajak anaknya untuk sholat bersama-sama. Bahkan kerap kali kita saksikan, meski sang anak tidak diajari sholat, tapi dengan sendirinya anak bisa menirukan gerakan-gerakan dan bacaan-bacaan sholat, hal itu boleh jadi karena si Anak sering kali menyaksikan kedua orang tuanya melaksanakan sholat.
            Kita tentunya mengenal M.H Ainun Najib, ia dalah budayawan yang terkenal peka dengan penderitaan orang miskin, perasaan itu tertanam dalam pada dirinya, karena di waktu kecil setiap kali selesai sholat shubuh sang ibu mengajaknya jalan-jalan untuk melihat secara langsung nasib dan penderitaan orang miskin di jalanan sembari memberikan sedekah. Berkaitan dengan hal ini,ada maqolah yang mengatakan “al umm madrosatul ‘Ula” bahwasannya ibu adalah tempat anak menimba ilmu pertama kali.
            Permasalahan lain yang juga kerap kali menjadi problema bagi orang tua adalah sikap anak-anak mereka yang sering kali suka membantah perintah orang tua, tidak mempunyai rasa hormat pada orang tua, bahkan berani menentang orang tua. Mengapakah bisa sampai demikian? Padahal tidak ada dibelahan bumi manapun orang tua yang mengajarkan anaknya untuk bersikap demikian. Semua orang tua tentunya mengajarkan anaknya untuk bersikap baik, berbudi luhur serta patuh dan taat pada orang tua, tetapi kenyataan yang sering kita jumpai malah berbalik 180 derajat?
            Sebuah kisah berikut semoga bisa menjadi bahan renungan dan jawaban tentang permasalahan di atas.
Dahulu ada seorang pemuda yang bertubuh tinggi dan dan berbadan kekar. Di siang hari yang panas, dengan angkuhnya pemuda tersebut berdiri di depan sumur sambil membawa cemeti yang dihunus seakan-akan siap dilecutkan kapan saja ia inginkan, sementara di depan pemuda tersebut berdiri seorang kakek yang sudah tua, denga keringatyang mengucur ia bersusah payah mengambil seember air dengan sebuah tali. Pak tua tersebut terlihat sangat lemah dan letih. Suatu ketika ada seseorang yang lewat, melihat pemandangan yang sangat miris tersebut, orang itu bertanya, “Nak tidak kasihankah engkau memperlakukan orang yang sudah sangat tua seperti itu?”
            “Jangan ikut campur, dia itu ayahku!” Jawab pemuda itu dengan ketus
            “Ayahmu? Lalu kenapa kau sampai hati memperlakukan ia seperti itu?” Tanya orang tersebut seakan belum puas dengan jawaban si Pemuda
            “Sesungguhnya aku dulu sering melihata, seperti inilah ia dulu memperlakukan ayahnya sewaktu masih hidup.” Jawab pemuda itu kemudian.[2]
            Dalam buku Fenomena Ayat-Ayat Cinta, Hanif Sirsaeba juga menjelaskan bahwa kakaknya Habiburrahman El-Shirozy pengarang novel Ayat-Ayat Cinta adalah seorang anak yang amat sangat patuh dan hormat pada orang tuanya, hal itu ternyata karena orang tua Habiburrahman sendiri adalah seorang anak yang sangat menghormati orang tua mereka atau kakek nenek Habib. Habib sering menyaksikan orang tua mereka mencium tangan kakek dan nenek Habib sebagai tanda sikap takdzim seorang anak pada orang tuanya.
            Dari ulasan di atas dapat kita ketahui betapa berpengaruhnya pola asuh serta sikap orang tua terhadap pembentukan pribadi anak. Sebagaimana yang dilukiskan Rasulullah SAW dalam sebuah hadist yang berbunyi,
كُلُّ مَوْلوُ ْدٍيُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَا نِهِ اَوْيُمَجِّسَانِ
Artinya: “Setiap anak terlahir dalam keadaan fitroh, ke dua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut Yahudi, Nasroni, atau Majusi.”       

Semoga ulasan singkat di atas dapat menjadi modal serta bahan renungan bagi kita para orang tua ataupun calon orang tua dalam membentuk akhlak dan pribadi seorang anak.

* Penulis adalah  Mahasiswa Tarbiyah UIN Malang. Jurusan PGMI semester 7 (tujuh)                                                                                       
           


[1] Andi Muzaki. Motivasi_Net. 2004. Private Library. Hal. 181
[2] 1001 Kisah Teladan

AL-QUR’AN DAN PRINSIP-PRINSIP METODOLOGI ILMIAH




Sebagian orang yang rendah pengetahuan keislamannya beranggapan bahwa al-Qur’an adalah sekedar kumpulan cerita-cerita kuno yang tidak mempunyai manfaat yang signifikan terhadap kehidupan modern, apalagi jika dikorelasikan dengan kemajuan IPTEK saat ini.
Al-Qur’an menurut mereka cukuplah dibaca untuk sekedar mendapatkan pahala bacaannya, tidak untuk digali kandungan ilmu di dalamnya, apalagi untuk dapat menjawab permasalahan-permasalahan dunia modern dan diterapkan dalam segala aspek kehidupan, hal itu adalah sesuatu yang nonsense.
Anggapan diatas merupakan indikasi bahwa orang tersebut tidak mau berusaha untuk membuka al-Qur’an dan menganalisis kandungan ayat yang terdapat dalam Al-qur’an. Seseorang mempunyai anggapan yang seperti itu adalah sangat keliru dan bertolak belakang dengan semangat al-Qur’an itu sendiri.
Sebagai wahyu yang telah diturunkan kepada nabi Muhammad, Al-qur’an mempunyai beberapa bukti yang menunjukkan bahwa dirinya merupakan sumber dari semua ilmu yang ada. Adapun bukti yang menunjukkan hal ini adalah:
1.       Bahwa wahyu yang pertama sekali diturunkankan oleh Allah SWT kepada Nabi-Nya Muhammad SAW adalah perintah untuk membaca/belajar (QS 96/1-5) :
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ
1.        Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2.        Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3.        Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4.        Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
5.        Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.dan menggunakan akal, bukan perintah untuk shalat, puasa atau dzikrullah. Demikian tinggi hikmah turunnya ayat ini, menunjukkan perhatian Islam yang besar terhadap ilmu pengetahuan.
2.       Bahwa Allah SWT mengangkat manusia (Adam as) sebagai khalifah-Nya dimuka bumi dan bukan para malaikat-Nya sebab adanya ilmu pengetahuan (QS 2/31-33).
zN¯=tæur tPyŠ#uä uä!$oÿôœF{$# $yg¯=ä. §NèO öNåkyÎztä n?tã Ïps3Í´¯»n=yJø9$# tA$s)sù ÎTqä«Î6/Rr& Ïä!$yJór'Î/ ÏäIwàs¯»yd bÎ) öNçFZä. tûüÏ%Ï»|¹ ÇÌÊÈ (#qä9$s% y7oY»ysö6ß Ÿw zNù=Ïæ !$uZs9 žwÎ) $tB !$oYtFôJ¯=tã ( y7¨RÎ) |MRr& ãLìÎ=yèø9$# ÞOŠÅ3ptø:$# ÇÌËÈ tA$s% ãPyŠ$t«¯»tƒ Nßg÷¥Î;/Rr& öNÎhͬ!$oÿôœr'Î/ ( !$£Jn=sù Nèdr't6/Rr& öNÎhͬ!$oÿôœr'Î/ tA$s% öNs9r& @è%r& öNä3©9 þÎoTÎ) ãNn=ôãr& |=øxî ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ãNn=÷ær&ur $tB tbrßö7è? $tBur öNçFYä. tbqãKçFõ3s? ÇÌÌÈ