Rabu, 04 Januari 2012

Cerminan Anak





            Kita sering mendengar orang Jawa mengatakan, “Kacang ora ninggal lanjaran” artinya tabiat seorang anak itu tidak jauh dengan tabiat orang tuanya. Unen-unen atau peribahasa Jawa tersebut menggambarkan bahwa tabiat dan kepribadian orang tua itu sangat berpengaruh pada tabiat dan kepribadian seorang anak. Saking berpengaruhnya tabiat orang tua terhadap tabiat anak hingga masyarakat sering kali menyandarkan atau menghubung-hubungkan segala tindak tanduk anak dengan orang tuanya, anak polah bapak kepradan, begitu orang Jawa menyebutnya, jika anak bertingkah laku baik maka nama orang tua turut disanjung-sanjung, tetapi jika anak bertingkah laku jelek maka orang tua juga turut terkena getahnya.
            Berikut ini adalah sebuah kisah yang dapat dijadikan pelajaran, betapa tabiat dan kepribadian orang tua itu sangat berpengaruh pada tabiat dan kepribadian seorang anak.
            Suatu ketika disebuah sekolah akan diadakan sebuah pementasan drama yang sangat meriah. Semua pemeran drama diambil dari siswa-siswi di sekolah tersebut. Semua anak berlatih dengan serius, karena Pak Guru mengumumkan bagi siswa siswi yang dapat memerankan karakter suatu tokoh dengan sangat bagus akan diberi suatu penghargaan.
            Di depan panggung, semua orang tua siswa ikut hadir menyemarakkan acara tersebut. Lakon drama berjalan dengan sempurna. Semua anak berusaha tampil dengan maksimal. Ada yang berperan sebagai petani lengkap dengan cangkul dan topinya, ada juga yang berperan sebagai nelayan dengan jala yang disandarkan di bahunya. Di sudut sana, tampak pula seorang anak dengan raut muka ketus, sebab dia kebagian peran pak tua yang pemarah, sementara di sudut lain terlihat anak dengan wajah sedih, layaknya pemurung yang selalu menangis. Tepuk tangan dari orang tua dan para guru kerap kali terdengar di sisi kanan dan kiri panggung.
            Tibalah kini saat terakhir pementasan drama, dan itu berarti Pak Guru harus mengumumkan siapa pemeran paling handal yang berhak mendapatkan penghargaan. Semua anak menunggu-nunggu pengumuman itu dengan hati yang berdebar-debar, berharap merekalah yang terpilih menjadi pemeran yang terbaik. Dalam komat-kamit mereka berdo’a, supaya nama merekalah yang dipanggil Pak Guru dan mengundang mereka beserta orang tua mereka untuk naik ke atas panggung menerima penghargaan itu. Para orang tua pun juga turut berdo’a membayangkan anak mereka menjadi yang terbaik.
            Pak Guru menaiki panggung, semua yang hadir menahan nafas. Tak lama kemudian ia menyebutkan sebuah nama, dan…ahaa! ternyata anak yang memerankan pak tua yang pemarah lah yang menjadi juara. Sang anak bersorak gembira, “Akuu menaaang….!” Begitu teriaknya. Ia pun bergegas menaiki panggung diiringi kedua orang tuanya yang tampak tersenyum bangga. Tepuk tangan terdengar lagi. Orang tua menatap ke sekeliling, menatap para hadirin, mereka bangga. Pak Guru menyambut mereka sebelum penyerahan hadiah. Ia sedikit bertanya kepada “Sang Jagoan.”
            “Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas mendapat penghargaan ini. Peranmu sebagai seorang pemarah terlihat sangat bagus sekali dan betul-betul menjiwai. Apa rahasianya Nak, sehingga kamu bisa tampil sebagus ini, kamu pasti sering mengikuti latihan, tak heran jika kamu terpilih menjadi yang terbaik,” Tanya Pak Guru, “Coba ceritakan kepada kami semua, apa yang bisa membuat kamu menjadi seperti ini?” Pak Guru melanjutkan kata-katanya.
            Sang anak menjawab dengan bangga, “Terimakasih atas hadiahnya Pak, dan sebenarnya saya harus berterimaksih kepada Ayah saya, karena dari Ayah lah saya belajar berteriak dan menjadi pemarah. Dan kepada Ayah lah saya meniru perilaku ini. Ayah sering berteriak dan memarahi saya, maka bukan hal yang sulit bagi saya untuk menjadi pemarah seperti Ayah saya.
            Tampak sang Ayah mulai tercenung. Sang Anak melanjutkan, “…Selama ini Ayah membesarkan saya dengan cara seperti ini, jadi peran ini adalah peran yang mudah bagi saya…”
             Senyap. Usai bibir anak itu terkatup keadaan tambah senyap.. Begitupun keadaan orang tua mereka di panggung, mereka tampak tertunduk. Jika sebelumnya mereka merasa bangga, kini keadaannya berubah. Seakan-akan mereka berdiri sebagai terdakwa di muka pengadilan. Mereka belajar sesuatu hari itu, ada yang perlu diluruskan.[1]
            Dari kisah di atas dapat kita petik pelajaran, betapa besar pengaruh sikap dan kepribadian orang tua terhadap sikap dan kepribadian seorang anak, hingga untuk berperan sebagai seorang pemarah yang ahli pun anak itu tidak perlu latihan secara khusus, karena anak merasa sang Ayah sudah mengajarkannya setiap hari melalui cara Ayah memperlakukan si Anak tersebut.
            Begitupun juga dengan putra-putri kita, apabila kita mendapati perilaku yang tidak baik pada diri mereka, maka seyogyanya janganlah serta merta langsung menyalahkan mereka. Hal penting yang juga perlu kita lakukan adalah “koreksi diri”. Apakah sebabnya mereka berperilaku demikian? Bagaimanakah dengan perilaku kita sebagai orang tua sehari-hari? Apakah kita sudah memberikan teladan yang baik bagi mereka melalui tingkah laku kita sehari-hari, ataukah malah sebaliknya? Jangan-jangan sikap buruk pada anak adalah hasil didikan kita sendiri yang selama ini tidak kita sadari.
            Anak adalah cerminan orang tua. Dapat dikatakan, bagaimana anak itu berfikir dan berperilaku seperti itu juga selama ini orang tuanya berfikir dan berperilaku. Perlu diketahui, pemberian teladan pada seorang anak melalui tingkah laku itu jauh lebih tertanam dalam jiwa mereka dari pada memberi teladan melalui kata-kata. Maka hendaklah sebelum kita mendidik anak berperilaku baik, terlebih dahulu kita harus mendidik diri sendiri. Sering kali kita mendengar keluhan, “anak saya itu lho sudah saya suruh sholat setiap hari, tapi tetap saja tidak mau nurut.” Lha bagaimana bisa nurut, orang ibu atau bapaknya sendiri sholatnya masih bolong-bolong.
            Orang tua tidak perlu membentak-bentak, mencarikan guru khusus, ataupun menaruhnya di sekolah yang berkualitas untuk menjadikan anaknya berakhlak baik, cukuplah orang tua tersebut merealisasikan pada dirinya sendiri apa yang ia inginkan pada anaknya, maka Insya Allah dengan sendirinya anak akan mengambil pelajaran dari sikap orang tua, bahkan tanpa disuruh. Jika ingin anaknya rajin mengaji, maka orang tua terlebih dahulu harus rajin mengaji. Jika ingin anaknya rajin sholat, maka orang tua terlebih dahulu harus rajin sholat. Untuk menanamkan pendidikan cinta sholat, maka ketika hendak sholat orang tua bisa mengajak anaknya untuk sholat bersama-sama. Bahkan kerap kali kita saksikan, meski sang anak tidak diajari sholat, tapi dengan sendirinya anak bisa menirukan gerakan-gerakan dan bacaan-bacaan sholat, hal itu boleh jadi karena si Anak sering kali menyaksikan kedua orang tuanya melaksanakan sholat.
            Kita tentunya mengenal M.H Ainun Najib, ia dalah budayawan yang terkenal peka dengan penderitaan orang miskin, perasaan itu tertanam dalam pada dirinya, karena di waktu kecil setiap kali selesai sholat shubuh sang ibu mengajaknya jalan-jalan untuk melihat secara langsung nasib dan penderitaan orang miskin di jalanan sembari memberikan sedekah. Berkaitan dengan hal ini,ada maqolah yang mengatakan “al umm madrosatul ‘Ula” bahwasannya ibu adalah tempat anak menimba ilmu pertama kali.
            Permasalahan lain yang juga kerap kali menjadi problema bagi orang tua adalah sikap anak-anak mereka yang sering kali suka membantah perintah orang tua, tidak mempunyai rasa hormat pada orang tua, bahkan berani menentang orang tua. Mengapakah bisa sampai demikian? Padahal tidak ada dibelahan bumi manapun orang tua yang mengajarkan anaknya untuk bersikap demikian. Semua orang tua tentunya mengajarkan anaknya untuk bersikap baik, berbudi luhur serta patuh dan taat pada orang tua, tetapi kenyataan yang sering kita jumpai malah berbalik 180 derajat?
            Sebuah kisah berikut semoga bisa menjadi bahan renungan dan jawaban tentang permasalahan di atas.
Dahulu ada seorang pemuda yang bertubuh tinggi dan dan berbadan kekar. Di siang hari yang panas, dengan angkuhnya pemuda tersebut berdiri di depan sumur sambil membawa cemeti yang dihunus seakan-akan siap dilecutkan kapan saja ia inginkan, sementara di depan pemuda tersebut berdiri seorang kakek yang sudah tua, denga keringatyang mengucur ia bersusah payah mengambil seember air dengan sebuah tali. Pak tua tersebut terlihat sangat lemah dan letih. Suatu ketika ada seseorang yang lewat, melihat pemandangan yang sangat miris tersebut, orang itu bertanya, “Nak tidak kasihankah engkau memperlakukan orang yang sudah sangat tua seperti itu?”
            “Jangan ikut campur, dia itu ayahku!” Jawab pemuda itu dengan ketus
            “Ayahmu? Lalu kenapa kau sampai hati memperlakukan ia seperti itu?” Tanya orang tersebut seakan belum puas dengan jawaban si Pemuda
            “Sesungguhnya aku dulu sering melihata, seperti inilah ia dulu memperlakukan ayahnya sewaktu masih hidup.” Jawab pemuda itu kemudian.[2]
            Dalam buku Fenomena Ayat-Ayat Cinta, Hanif Sirsaeba juga menjelaskan bahwa kakaknya Habiburrahman El-Shirozy pengarang novel Ayat-Ayat Cinta adalah seorang anak yang amat sangat patuh dan hormat pada orang tuanya, hal itu ternyata karena orang tua Habiburrahman sendiri adalah seorang anak yang sangat menghormati orang tua mereka atau kakek nenek Habib. Habib sering menyaksikan orang tua mereka mencium tangan kakek dan nenek Habib sebagai tanda sikap takdzim seorang anak pada orang tuanya.
            Dari ulasan di atas dapat kita ketahui betapa berpengaruhnya pola asuh serta sikap orang tua terhadap pembentukan pribadi anak. Sebagaimana yang dilukiskan Rasulullah SAW dalam sebuah hadist yang berbunyi,
كُلُّ مَوْلوُ ْدٍيُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَا نِهِ اَوْيُمَجِّسَانِ
Artinya: “Setiap anak terlahir dalam keadaan fitroh, ke dua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut Yahudi, Nasroni, atau Majusi.”       

Semoga ulasan singkat di atas dapat menjadi modal serta bahan renungan bagi kita para orang tua ataupun calon orang tua dalam membentuk akhlak dan pribadi seorang anak.

* Penulis adalah  Mahasiswa Tarbiyah UIN Malang. Jurusan PGMI semester 7 (tujuh)                                                                                       
           


[1] Andi Muzaki. Motivasi_Net. 2004. Private Library. Hal. 181
[2] 1001 Kisah Teladan

AL-QUR’AN DAN PRINSIP-PRINSIP METODOLOGI ILMIAH




Sebagian orang yang rendah pengetahuan keislamannya beranggapan bahwa al-Qur’an adalah sekedar kumpulan cerita-cerita kuno yang tidak mempunyai manfaat yang signifikan terhadap kehidupan modern, apalagi jika dikorelasikan dengan kemajuan IPTEK saat ini.
Al-Qur’an menurut mereka cukuplah dibaca untuk sekedar mendapatkan pahala bacaannya, tidak untuk digali kandungan ilmu di dalamnya, apalagi untuk dapat menjawab permasalahan-permasalahan dunia modern dan diterapkan dalam segala aspek kehidupan, hal itu adalah sesuatu yang nonsense.
Anggapan diatas merupakan indikasi bahwa orang tersebut tidak mau berusaha untuk membuka al-Qur’an dan menganalisis kandungan ayat yang terdapat dalam Al-qur’an. Seseorang mempunyai anggapan yang seperti itu adalah sangat keliru dan bertolak belakang dengan semangat al-Qur’an itu sendiri.
Sebagai wahyu yang telah diturunkan kepada nabi Muhammad, Al-qur’an mempunyai beberapa bukti yang menunjukkan bahwa dirinya merupakan sumber dari semua ilmu yang ada. Adapun bukti yang menunjukkan hal ini adalah:
1.       Bahwa wahyu yang pertama sekali diturunkankan oleh Allah SWT kepada Nabi-Nya Muhammad SAW adalah perintah untuk membaca/belajar (QS 96/1-5) :
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ
1.        Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2.        Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3.        Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4.        Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
5.        Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.dan menggunakan akal, bukan perintah untuk shalat, puasa atau dzikrullah. Demikian tinggi hikmah turunnya ayat ini, menunjukkan perhatian Islam yang besar terhadap ilmu pengetahuan.
2.       Bahwa Allah SWT mengangkat manusia (Adam as) sebagai khalifah-Nya dimuka bumi dan bukan para malaikat-Nya sebab adanya ilmu pengetahuan (QS 2/31-33).
zN¯=tæur tPyŠ#uä uä!$oÿôœF{$# $yg¯=ä. §NèO öNåkyÎztä n?tã Ïps3Í´¯»n=yJø9$# tA$s)sù ÎTqä«Î6/Rr& Ïä!$yJór'Î/ ÏäIwàs¯»yd bÎ) öNçFZä. tûüÏ%Ï»|¹ ÇÌÊÈ (#qä9$s% y7oY»ysö6ß Ÿw zNù=Ïæ !$uZs9 žwÎ) $tB !$oYtFôJ¯=tã ( y7¨RÎ) |MRr& ãLìÎ=yèø9$# ÞOŠÅ3ptø:$# ÇÌËÈ tA$s% ãPyŠ$t«¯»tƒ Nßg÷¥Î;/Rr& öNÎhͬ!$oÿôœr'Î/ ( !$£Jn=sù Nèdr't6/Rr& öNÎhͬ!$oÿôœr'Î/ tA$s% öNs9r& @è%r& öNä3©9 þÎoTÎ) ãNn=ôãr& |=øxî ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ãNn=÷ær&ur $tB tbrßö7è? $tBur öNçFYä. tbqãKçFõ3s? ÇÌÌÈ